Pemetaan Potensi Bencana Penting Untuk Antisipasi Banjir Bandang

Pemetaan Potensi Bencana Penting Untuk Antisipasi Banjir Bandang

Pemetaan Potensi Bencana Penting Untuk Antisipasi Banjir Bandang

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menilai pemetaan potensi bencana secara detil merupakan usaha yang lumayan penting untuk mengantisipasi bencana banjir bandang di jaman mendatang, menyusul banjir bandang yang terjadi di Puncak, Bogor, terhadap Selasa (19/1).

“Jadi penanggulangannya agar perihal ini tidak terjadi lagi, wajib diupayakan yang pertama wajib dibuat peta yang lebih detil berkaitan bencana banjir bandang,” kata peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI Dr. Iwan Ridwansyah selagi dihubungi ANTARA, di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan bahwa banjir bandang merupakan banjir yang berkunjung tiba-tiba dan cepat akibat hujan deras terhadap topografi curam, pelepasan tiba-tiba air yang tertahan dari konstruksi bendungan, juga pembendungan badan air (damning) dan kegagalan tanggul atau lereng. Selain itu, banjir bandang juga membawa puing-puing (debris) berwujud tanah, kayu dan bebatuan.

Di Indonesia, banjir bandang menyatakan tren peningkatan. Data Sendai UNDRR terhadap 2019 dan BNPB terhadap 2019 menyatakan peningkatan banjir bandang, terlebih terhadap 2016 dan 2017 yang menggapai 75 dan 90 kejadian.

Mekanisme terjadinya banjir bandang tidak sama dengan banjir biasa. Pada banjir bandang biasanya tersedia bagian-bagian sungai yang terbendung. Kemudian, dikarenakan curah hujan makin lama tinggi, sesudah itu bendungan berikut tidak kuat menghambat beban, maka selanjutnya jebol dan hanyut ke anggota yang lebih hilir.

Pada beberapa kasus, proses berikut terjadi dengan rentetan bendung alam yang banyak. Begitu bendung yang atas jebol, maka air yang membawa puing-puing secara berurutan bakal menghantam bendung di bawahnya dengan pengaruh rusaknya yang lebih besar.

Pada masalah banjir bandang di Gunung Mas, Bogor, berdasarkan sumber informasi setempat mengatakan bahwa telah terjadi longsor terhadap dua bulan selanjutnya di anggota hulu.

Kemungkinan longsoran berikut sesudah itu menghambat aliran sungai berwujud bendung alam, atau mungkin dikarenakan lainnya adalah dikarenakan aliran sungai sebetulnya terhambat oleh batang-batang kayu dan ranting agar membentuk bendungan alam.

Ketika hujan lebat menggapai 119 mm, seperti yang tercatat di pos hujan Citeko Puncak, Bogor, terhadap Selasa (19/1), air terkumpul di bendung berikut dan dikarenakan tidak kuat menghambat beban jaman air, sesudah itu bendungan berikut jebol dengan membawa seluruh material sedimen, ranting dan batang kayu juga turut hanyut ke anggota hilirnya dengan energi rusak yang lebih kuat.

Oleh dikarenakan itu, untuk mengantisipasi agar perihal mirip tidak terjadi lagi di jaman mendatang, Iwan memberi saran agar pemetaan area potensi bencana bisa dijalankan lebih detil lagi dengan menggunakan analisa keruangan terhadap aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) dengan memperhitungkan faktor-faktor seperti morfologi DAS, pemakaian lahan, kemiringan lereng, type tanah, litologi batuan, struktur geologi dan intensitas hujan.

Peta hasil analisa berikut bisa jadi petunjuk wilayah mana saja yang berpotensi terjadi banjir bandang dan wilayah yang bakal terdampak. Bila tersedia pemukiman terhadap wilayah terdampak, maka wajib dijalankan relokasi atau dibangun DAM penahan agar pemukiman tidak terkena aliran banjir bandang tersebut.

Setelah jalankan pemetaan area rawan bencana, langkah antisipasi seterusnya adalah dengan memonitor situasi aliran sungai bilamana tersedia bendung-bendung alami, baik dikarenakan longsoran, atau batang-batang kayu yang terbentuk secara alami.

Metoda yang pas untuk jalankan monitoring adalah dengan menggunakan penginderaan jauh (remote sensing), baik dengan menggunakan citra satellite resolusi tinggi, atau menggunakan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau biasa dikenal sebagai drone.

“Wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi banjir bandang secara berkala dimonitor, dan kalau tersedia bendung-bendung alami langsung diruntuhkan untuk menghindari terjadinya banjir bandang,” kata Iwan, yang juga merupakan Ketua Kelompok Penelitian : Mitigasi Bencana Perairan Darat.

Kunjungi Juga : Berita Geografi Terbaru Hari Ini

Kemudian, usaha antisipasi lain yang bisa dijalankan adalah dengan membangun proses peringatan dini terhadap wilayah-wilayah yang berpotensi bencana banjir bandang, dengan memonitor parameter-parameter yang jadi penyebab banjir bandang, kalau intensitas hujan, debit aliran sungai dan longsor. Sistem peringatan dini berikut juga dikehendaki bisa memberikan peringatan kepada masyarakat di wilayah hilir bilamana terjadi bencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *