Tanggul Anti-Tsunami: Boros Anggaran dan Tak Efektif

Meski diklaim pemerintah bisa jadi solusi jitu mengatasi bencana tsunami, tapi pembangunan tanggul Teluk Palu banjir kritik dari sejumlah pihak. Kita perlu belajar dari kegagalan tanggul Teluk Kamaishi saat dihantam tsunami besar pada 2011.

Sejumlah ahli menyebut, pembangunan tanggul di Teluk Palu setinggi 7 kilometer dan 3 meter, guna mengantisipasi terjadinya tsunami adalah proyek mubazir.

Meski diklaim pemerintah bisa jadi solusi jitu mengatasi bencana tsunami, tapi pembangunan tanggul Teluk Palu banjir kritik dari sejumlah pihak. Kita perlu belajar dari kegagalan tanggul Teluk Kamaishi saat dihantam tsunami besar pada 2011.

Sejumlah ahli menyebut, pembangunan tanggul di Teluk Palu setinggi 7 kilometer dan 3 meter, guna mengantisipasi terjadinya tsunami adalah proyek mubazir.

Ketua Asosiasi Ahli Tsunami Indonesia, Gegar Prasetya, berujar kepada Kabar Sulteng Bangkit, bahaya tsunami tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gelombangnya, melainkan panjang gelombang yang datang. Dengan begitu, semakin panjang gelombang, maka kian tinggi tanggul yang dibutuhkan.

Tsunami itu, imbuhnya, ibarat kereta dengan 12 mobil yang menabrak beton. “Begitu dia (kereta) menabrak, ya, dua belas gerbongnya menabrak sampai berhenti,” tutur Gegar.

Terlebih dalam kasus gelombang tsunami yang menerjang wilayah Teluk Palu pada 28 September 2018. Hanya dalam hitungan 4 menit, tsunami itu hadir dengan panjang 2 hingga 3 kilometer. Jadi, seberapa lebar dan tinggi tanggul dibikin, tsunami akan tetap melonjak saat menghantam bangunan.

Itulah penjelasan kenapa tanggul di Teluk Kamaishi, yang didirikan pada 2009, tidak efektif menekan tsunami pada 2011. Padahal tanggul yang dibangun Jepang dengan budget fantastis hingga US$1,5 miliar tersebut sengaja didesain dengan kedalaman 63 meter dan panjang 1950 meter, bahkan telah memecahkan rekor dunia.

Sebagai gantinya, Gegar menyarankan agar pemerintah mengutamakan vegetasi hutan pantai demi menekan dampak tsunami Palu yang berbahaya. Pasalnya, selain lebih murah, hasilnya pun mampu dirasakan generasi mendatang,

Senada, Widjo juga merekomendasikan penanaman bakau lantaran dipandang lebih efektif mengurangi ketinggian tsunami sekitar 30 persen. Ini berdasarkan penelitiannya di empat daerah yang ditumbuhi bakau, yaitu Kabupaten Nias, pantai barat Aceh, Desa Kabonga Besar dan Labuan Bajo, Kabupaten Donggala.

“Bakau dengan kepadatan 1 persen dapat mengurangi 20-30 persen ketinggian tsunami,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *